Jumat, 23 Oktober 2015

Move On In Muharram

HIJRAH.
HIJRAH JANGAN SETENGAH-SETENGAH, HIJRAHLAH UNTUK ISTIQOMAH.
Oleh: Tarmizi M. Yusuf

Hijrah jangan setengah-setengah, Hijrahlah untuk istiqomah.
“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AnNisa: 100)
Sebuah kata hijrah, mungkin sudah tidak asing terdengar ditelinga, terucap dari mulut kita dan terkenal karena sering dibicarakan. Waktu demi waktu telah kita lalui, banyak kisah yang telah terlewatkan, namun sedikit di antara kita yang menyadari atau mengerti akan esensi yang terkandung dalam sejarah yang pernah dilalui, padahal Allah tidak menjadikan suatu peristiwa dengan sia-sia. Ada ibrah (pelajaran) yang patut diambil dan diingat untuk dijadikan barometer terhadap kehidupan yang akan dijelang. “Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS: Yusuf: 111).
Banyak sejarah dan peristiwa yang telah digoreskan oleh nabi Muhammad saw. Di antara goresan sejarah yang sangat monumental dalam perjalanan hidup Rasulullah saw adalah peristiwa hijrah Rasulullah saw dan sahabatnya dari kota Mekkah ke kota Madinah. Dalam peristiwa tersebut tampak sosok manusia yang begitu kokoh dalam memegang prinsip yang diyakini, tegar dalam mempertahankan aqidah, dan gigih dalam memperjuangkan kebenaran. Sehingga sejarah pun dengan bangga menorehkan tinta emasnya untuk mengenang sejarah tersebut agar dapat dijadikan tolok ukur dalam pembangunan masyarakat madani dan rabbani, tegak di atas kebaikan, tegas terhadap kekufuran dan lemah lembut terhadap sesama muslim.
Lantas apa sebenarnya makna hijrah?
Apa hakikat dari hijrah itu sendiri?
Makna Hijrah dapat diartikan dalam : (1) makna bahasa, (2) makna historis (sejarah), dan (3) makna syar'i. Adapun dalam pengertian bahasa, arti hijrah adalah perpindahan untuk mukim dari suatu tempat ke tempat lain yang baru. Dalam pengertian bahasa ini, sesungguhnya telah menjadi sifat umat manusia dalam kesejarahan hidupnya di muka bumi, bahwa mereka telah hidup berhijrah sejak kelompok pertama manusia ada di muka bumi ini. Dikarenakan hijrah merekalah, maka terbentuk berbagai suku dan bangsa yang menghuni di berbagai wilayah yang tersebar di seluruh daratan bumi. Mengapa mereka berhijrah? Tiada lain kecuali karena untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik.
Adapun secara historis, makna hijrah diartikan sebagai kepindahan Nabi saw beserta para sahabatnya dari kota mekah ke kota madinah. Peristiwa hijrah Nabi saw ini diawali dengan kondisi penindasan yang dialami oleh beliau saw bersama sahabatnya di kota Mekah sebagai kota kelahiran dan asal mereka. Beliau beserta sahabat-sahabatnya dalam kurun waktu 13 tahun di kota Mekah menghadapi rintangan dan perlawanan yang sangat berat dari mayoritas penduduk Mekah. Dari mulai hujatan, penyiksaan, pembaikotan sampai upaya pembunuhan telah dihadapi oleh kaum muslimin selama mereka berada di Mekah. Upaya menghindarkan diri telah Nabi saw perintahkan kepada sebagian kaum muslimin dengan cara berhijrah hingga ke negeri Habasyah (Etyopia) dan Madinah. Hingga pada tahun ke 13 kenabian, saat kaum musyrik Mekah bersepakat untuk membunuh Nabi saw sebagai puncak permusuhan mereka, maka Allah swt perintahkan kepada NabiNya untuk berhijrah pula ke kota madinah. Allah swt berfirman: "Dan ingatlah ketika orang-orang kafir memikirkan tipu-daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memanjarakanmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya. " (QS. Al Anfal: 30)
Sedangkan  pengertian  hijrah  menurut   syar'i   adalah  bahwa  seorang  muslim 'diperintahkan untuk melepaskan diri dari kondisi keburakan dan merabahnya menjadi kebaikan, Rasulullah saw bersabda; "Berhijrah adalah meninggalkan segala kenistaan dan pelanggaran". (HR. Ibnu Majah)
Adakalanya upaya seseorang untuk meninggalkan keburukan, kenistaan dan pelanggaran, tidak mungkin terealisasi kecuali dengan meninggalkan lingkungannya bahkan tempat tinggalnya, oleh karenanya Allah swt menjelaskan dalam firmanNya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rizqi yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian menjumpainya sebelum sampai ke tempat yang dimaksud, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. " (QS: An-Nisa : 100)
Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah swt untuk menolong hambanya yang berhijrah dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik. Pertolongan Allah swt ditunjukkan dengan jaminan bahwa rizqi dariNya sangat banyak, dan Allah swt memberikan rizqi kepada hambaNya yang dihekendaki, dan Dia menghendaki untuk melimpahkan rizqi kepada hamba-hambaNya yang berhijrah menuju kebaikan.
Adapun hakikat hijrah itu sendiri yaitu mensucikan diri. Hijrah dalam arti menjauhi kemaksiatan dan menyembah berhala, seperti dalam firman Allah, “Dan perbuatan dosa, maka jauhilah” (QS: Muddatstsir: 5) dan firman-Nya, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS: Muzammil: 10). Kedua ayat di atas turun di masa Rasulullah saw memulai dakwah, pada saat itu nabi saw diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi diri dari perbuatan keji dan mungkar dan dari mengikuti perbuatan syirik dan dosa seperti yang dilakukan oleh orang musyrik di kota Mekkah saat itu.
Di samping itu Allah juga memerintahkan kepada beliau untuk bersabar terhadap cacian, cercaan, makian, siksaan, intimidasi dan segala bentuk penolakan yang bersifat halus dan kasar, dan berusaha untuk menghindar dari mereka dengan cara yang baik. Cara ini pula yang diterapkan oleh Rasulullah dalam berdakwah kepada para sahabatnya hingga pada akhirnya beliau berhasil mencetak generasi yang berjiwa bersih, berhati suci, bahkan membentuk generasi yang ideal, bersih dari kemusyrikan, kekufuran dan kemunafikan, kokoh dan tangguh, dan memiliki ikatan ukhuwah islamiyah yang erat. Padahal sebelumnya mereka tidak mengenal Islam bahkan phobi terhadapnya, namun setelah mengenal Islam dan hijrah ke dalamnya, justru menjadi pionir bagi tegaknya ajaran Islam.
Kisah Umar bin Khathab ra, menarik untuk kita simak; beliau di masa awal dakwah sebelum memeluk Islam dikenal dengan julukan “penghulu para pelaku kejahatan”, namun setelah hijrah beliau menjadi pemimpin umat yang disegani, tawadhu dan suka menolong orang miskin, beliau menjadi tonggak bagi tegaknya ajaran Islam.
Begitupun dengan kisah Khalid bin Walid, Abu Sofyan dan sahabat yang lainnya, menjadi bukti konkret akan perjalanan hijrah mereka dari kegelapan, kekufuran dan kemaksiatan menuju cahaya Allah. Karena itu pula Rasulullah saw pernah bersabda, “Sebaik-baik kalian di masa Jahiliyah, sebaik-baik kalian di masa Islam, jika mereka mau memahami”.
Hijrah ini sangatlah berat, karena di samping harus memiliki kesabaran, juga dituntut memiliki ketahanan ideologi dan keyakinan agar tidak mudah terbujuk rayuan dan godaan dari kenikmatan dunia yang fana, dan memiliki ketangguhan diri dan tidak mudah lentur saat mendapatkan cobaan dan siksaan yang setiap saat menghadangnya, berusaha membedakan diri walaupun mereka hidup di tengah-tengah mereka, karena ciri khas seorang muslim sejati “yakhtalitun walaakin yatamayyazun” (bercampur baur namun memiliki ciri khas tersendiri/tidak terkontaminasi)
Melihat kenyataan yang ada memang hijrah pada saat ini sangat relevan untuk diterapkan terutama yang berkaitan dengan hijrah nafsiyah (individu) dengan berusaha menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang menyimpang dan berusaha memperbaiki diri untuk bersih dari segala perbuatan kotor, sehingga hati, jiwa dan raga serta segala perbuatan menjadi suci. Dan setelah itu berusaha menghijrahkan keluarga, kerabat, lingkungan dan masyarakat yang ada di sekitarnya (terdekat), hingga pada akhirnya membentuk komunitas yang siap melakukan hijrah. Selanjutnya hijrahlah untuk istiqomah. Istiqomah untuk mempertahankannya, istiqomah untuk memperjuangkannya dan istiqomah untuk menyebarkannya.

Demikianlah hendaknya yang harus kita pahami akan makna dan hakikat hijrah, dimana krisis multidimensi sudah begitu menggejala dalam tubuh umat Islam, dan diperparah dengan terkikisnya norma-norma Islam dalam tubuh mereka, perlu adanya pembenahan diri sedini mungkin, diawali dari diri sendiri, lalu setelah itu anggota keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat luas. “Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Wallahu a’lam.


#MoveOnInMuharram

0 komentar: