HIJRAH.
HIJRAH JANGAN SETENGAH-SETENGAH,
HIJRAHLAH UNTUK ISTIQOMAH.
Oleh: Tarmizi M. Yusuf
Hijrah
jangan setengah-setengah, Hijrahlah untuk istiqomah.
“Barangsiapa
yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat
hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya
dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya
(sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di
sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AnNisa: 100)
Sebuah
kata hijrah, mungkin sudah tidak asing terdengar ditelinga, terucap dari mulut
kita dan terkenal karena sering dibicarakan. Waktu demi waktu telah kita lalui, banyak kisah yang telah
terlewatkan, namun sedikit di antara kita yang menyadari atau mengerti akan
esensi yang terkandung dalam sejarah yang pernah dilalui, padahal Allah tidak
menjadikan suatu peristiwa dengan sia-sia. Ada ibrah (pelajaran) yang patut
diambil dan diingat untuk dijadikan barometer terhadap kehidupan yang akan
dijelang. “Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal. Itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan
tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu,
dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS: Yusuf: 111).
Banyak sejarah dan peristiwa yang telah
digoreskan oleh nabi Muhammad saw. Di antara goresan sejarah yang sangat
monumental dalam perjalanan hidup Rasulullah saw adalah peristiwa hijrah
Rasulullah saw dan sahabatnya dari kota Mekkah ke kota Madinah. Dalam peristiwa
tersebut tampak sosok manusia yang begitu kokoh dalam memegang prinsip yang
diyakini, tegar dalam mempertahankan aqidah, dan gigih dalam memperjuangkan
kebenaran. Sehingga sejarah pun dengan bangga menorehkan tinta emasnya untuk
mengenang sejarah tersebut agar dapat dijadikan tolok ukur dalam pembangunan
masyarakat madani dan rabbani, tegak di atas kebaikan, tegas terhadap kekufuran
dan lemah lembut terhadap sesama muslim.
Lantas apa sebenarnya makna hijrah?
Apa hakikat dari hijrah itu sendiri?
Makna
Hijrah dapat diartikan dalam : (1) makna bahasa, (2) makna historis (sejarah),
dan (3) makna syar'i. Adapun dalam pengertian bahasa, arti hijrah adalah
perpindahan untuk mukim dari suatu tempat ke tempat lain yang baru. Dalam
pengertian bahasa ini, sesungguhnya telah menjadi sifat umat manusia dalam
kesejarahan hidupnya di muka bumi, bahwa mereka telah hidup berhijrah sejak
kelompok pertama manusia ada di muka bumi ini. Dikarenakan hijrah merekalah,
maka terbentuk berbagai suku dan bangsa yang menghuni di berbagai wilayah yang
tersebar di seluruh daratan bumi. Mengapa mereka berhijrah? Tiada lain kecuali
karena untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik.
Adapun
secara historis, makna hijrah diartikan sebagai kepindahan Nabi saw beserta
para sahabatnya dari kota mekah ke kota madinah. Peristiwa hijrah Nabi saw ini
diawali dengan kondisi penindasan yang dialami oleh beliau saw bersama
sahabatnya di kota Mekah sebagai kota kelahiran dan asal mereka. Beliau beserta
sahabat-sahabatnya dalam kurun waktu 13 tahun di kota Mekah menghadapi
rintangan dan perlawanan yang sangat berat dari mayoritas penduduk Mekah. Dari
mulai hujatan, penyiksaan, pembaikotan sampai upaya pembunuhan telah dihadapi
oleh kaum muslimin selama mereka berada di Mekah. Upaya menghindarkan diri
telah Nabi saw perintahkan kepada sebagian kaum muslimin dengan cara berhijrah
hingga ke negeri Habasyah (Etyopia) dan Madinah. Hingga pada tahun ke 13
kenabian, saat kaum musyrik Mekah bersepakat untuk membunuh Nabi saw sebagai
puncak permusuhan mereka, maka Allah swt perintahkan kepada NabiNya untuk
berhijrah pula ke kota madinah. Allah swt berfirman: "Dan ingatlah ketika
orang-orang kafir memikirkan tipu-daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap
dan memanjarakanmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya. " (QS. Al
Anfal: 30)
Sedangkan pengertian
hijrah menurut syar'i
adalah bahwa seorang
muslim 'diperintahkan untuk melepaskan diri dari kondisi keburakan dan
merabahnya menjadi kebaikan, Rasulullah saw bersabda; "Berhijrah adalah
meninggalkan segala kenistaan dan pelanggaran". (HR. Ibnu Majah)
Adakalanya upaya
seseorang untuk meninggalkan keburukan, kenistaan dan pelanggaran, tidak
mungkin terealisasi kecuali dengan meninggalkan lingkungannya bahkan tempat
tinggalnya, oleh karenanya Allah swt menjelaskan dalam firmanNya:
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka
bumi tempat hijrah yang luas dan rizqi yang banyak. Barangsiapa keluar dari
rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian
menjumpainya sebelum sampai ke tempat yang dimaksud, maka sungguh telah tetap
pahalanya di sisi Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha
Penyayang. " (QS: An-Nisa : 100)
Ayat tersebut merupakan
jaminan dari Allah swt untuk menolong hambanya yang berhijrah dari kondisi yang
buruk kepada kondisi yang lebih baik. Pertolongan Allah swt ditunjukkan dengan
jaminan bahwa rizqi dariNya sangat banyak, dan Allah swt memberikan rizqi
kepada hambaNya yang dihekendaki, dan Dia menghendaki untuk melimpahkan rizqi
kepada hamba-hambaNya yang berhijrah menuju kebaikan.
Adapun
hakikat hijrah itu sendiri yaitu mensucikan diri. Hijrah dalam arti menjauhi
kemaksiatan dan menyembah berhala, seperti dalam firman Allah, “Dan perbuatan
dosa, maka jauhilah” (QS: Muddatstsir: 5) dan firman-Nya, “Dan bersabarlah
terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS:
Muzammil: 10). Kedua ayat di atas turun di masa Rasulullah saw memulai dakwah,
pada saat itu nabi saw diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi diri dari
perbuatan keji dan mungkar dan dari mengikuti perbuatan syirik dan dosa seperti
yang dilakukan oleh orang musyrik di kota Mekkah saat itu.
Di
samping itu Allah juga memerintahkan kepada beliau untuk bersabar terhadap
cacian, cercaan, makian, siksaan, intimidasi dan segala bentuk penolakan yang
bersifat halus dan kasar, dan berusaha untuk menghindar dari mereka dengan cara
yang baik. Cara ini pula yang diterapkan oleh Rasulullah dalam berdakwah kepada
para sahabatnya hingga pada akhirnya beliau berhasil mencetak generasi yang
berjiwa bersih, berhati suci, bahkan membentuk generasi yang ideal, bersih dari
kemusyrikan, kekufuran dan kemunafikan, kokoh dan tangguh, dan memiliki ikatan
ukhuwah islamiyah yang erat. Padahal sebelumnya mereka tidak mengenal Islam
bahkan phobi terhadapnya, namun setelah mengenal Islam dan hijrah ke dalamnya,
justru menjadi pionir bagi tegaknya ajaran Islam.
Kisah
Umar bin Khathab ra, menarik untuk kita simak; beliau di masa awal dakwah
sebelum memeluk Islam dikenal dengan julukan “penghulu para pelaku kejahatan”,
namun setelah hijrah beliau menjadi pemimpin umat yang disegani, tawadhu dan
suka menolong orang miskin, beliau menjadi tonggak bagi tegaknya ajaran Islam.
Begitupun
dengan kisah Khalid bin Walid, Abu Sofyan dan sahabat yang lainnya, menjadi
bukti konkret akan perjalanan hijrah mereka dari kegelapan, kekufuran dan
kemaksiatan menuju cahaya Allah. Karena itu pula Rasulullah saw pernah bersabda,
“Sebaik-baik kalian di masa Jahiliyah, sebaik-baik kalian di masa Islam, jika
mereka mau memahami”.
Hijrah
ini sangatlah berat, karena di samping harus memiliki kesabaran, juga dituntut
memiliki ketahanan ideologi dan keyakinan agar tidak mudah terbujuk rayuan dan
godaan dari kenikmatan dunia yang fana, dan memiliki ketangguhan diri dan tidak
mudah lentur saat mendapatkan cobaan dan siksaan yang setiap saat
menghadangnya, berusaha membedakan diri walaupun mereka hidup di tengah-tengah
mereka, karena ciri khas seorang muslim sejati “yakhtalitun walaakin
yatamayyazun” (bercampur baur namun memiliki ciri khas tersendiri/tidak
terkontaminasi)
Melihat kenyataan yang ada memang hijrah pada saat ini sangat
relevan untuk diterapkan terutama yang berkaitan dengan hijrah nafsiyah
(individu) dengan berusaha menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang
menyimpang dan berusaha memperbaiki diri untuk bersih dari segala perbuatan
kotor, sehingga hati, jiwa dan raga serta segala perbuatan menjadi suci. Dan
setelah itu berusaha menghijrahkan keluarga, kerabat, lingkungan dan masyarakat
yang ada di sekitarnya (terdekat), hingga pada akhirnya membentuk komunitas
yang siap melakukan hijrah. Selanjutnya hijrahlah untuk istiqomah. Istiqomah
untuk mempertahankannya, istiqomah untuk memperjuangkannya dan istiqomah untuk
menyebarkannya.
Demikianlah
hendaknya yang harus kita pahami akan makna dan hakikat hijrah, dimana krisis
multidimensi sudah begitu menggejala dalam tubuh umat Islam, dan diperparah
dengan terkikisnya norma-norma Islam dalam tubuh mereka, perlu adanya
pembenahan diri sedini mungkin, diawali dari diri sendiri, lalu setelah itu
anggota keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat luas. “Barangsiapa
yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat
hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya
dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya
(sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di
sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Wallahu a’lam.
#MoveOnInMuharram


0 komentar:
Posting Komentar