Jumat, 23 Oktober 2015

Forum Komunikasi Mahasiswa Islam (FKMI) Nuruddin FISIP UNTAN Pontianak Gelar Peringatan Tahun Baru Hijriyah


         Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1437 H, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam (FKMI) Nuruddin FISIP UNTAN menyelenggarakan berbagai kegiatan yang kali ini bertajuk Nuruddin Muharram Islamic Festival (NMIF) yang bertemakan tentang Feel The New Spirit Of Hijra. Dimulai dengan Pawai Muharram (14/10) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pontianak bersama Lembaga Dakwah Kampus/Fakultas bersama Puskomda Kalbar, unit-unit kegiatan mahasiswa dan ormas-ormas lainnya. Pawai dilakukan keliling beberapa jalan dikota Pontianak yang dimeriahkan oleh Grup Drum Band dari beberapa asal sekolah di Kota Pontianak dan Pergelaran lomba Mobil Hias. Kemudian diselenggarakan Grand Opening Studi Islam kampus (24/10) yang merupakan kegiatan Pembukaan Mentoring Islam khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas tanjungpura. Lomba Kreasi Hijab Syar'i (23/10) kemudian dilanjutkan dengan Talkshow Inspiratif (23/10) yang terbuka untuk umum, khususnya Mahasiswa di Universitas tanjungpura. dan akan ditutup dengan kegiatan Seminar dan training Motivasi (24/10) oleh Motivator Nasional, Fakhrul Ar-Razi (Penulis Buku Best Seller Agar Kuliah Tak Sekedar Status, Duta Anti Narkoba dan Entrprenuer Muda). kegiatan ini diharapkan dapat menteladani semangat hijrah Nabi Muhammad SAW dan membangun Mahasiswa yang Unggul dan berkarakter yang Beriman, Berilmu dan Beramal Shaleh.

Agenda Grand Opening Studi Islam Kampus (STUDIKA) FISIP UNTAN 2015



Pawai 1 Muharram 1437 H


Talkshow Inspiratif
"Hijrahku, Hijrah Untuk Istiqomah"

Pemenang Lomba Kreasi Hijab Syar'i

Training Motivasi bersama Bg Fakhrul Ar Razi (Motivator Nasional, Penulis Buku Bes Seller)


#MoveOnInMuharram
#Hijrahku,HijrahUntukIstiqomah

Tuhan Maaf Saya Sibuk

"Tuhan Maaf Saya Sibuk"
Oleh : M. Agustiar Akbar

Bebicara kesibukan adalah sesuatu yang sangat sering terjadi dikehidupan kita. Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun kita selalu sibuk dengan aktivitas kita, bahkan terkadang kita lupa atas kewajiban kita sebagai makhluk yang telah diciptakan-Nya, kita lupa akan kewajiban yang semestinya kita dahulukan. kita lupa, kita terlena dengan kehidupan dunia yang hanya sementara, kita terbuai oleh indahnya dunia. Sahabatku yang sangat ku cintai, manusia hanyalah pengendara diatas punggung usianya, digulung hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun tanpa terasa nafasnya terus berjalan. Sebenarnya dunialah yang manusia jahui dan liang kuburlah yang manusia dekati. Sahabat-sahabatku yang aku cintai dan aku sayangi, jangan sampai kesibukan kita membuat hati kita jauh dari-Nya karena kita diciptakan didunia yang sementara ini hanya untuk beribadah kepada-Nya untuk bekal kita menuju hidup diakhirat yang kekal abadi. Entah coretan kisah apa yang sudah menghiasi buku catatan amal kita, rasanya masih sedikit tinta warna kebaikan, sangatlah tidak berimbang dengan usia yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Mari kita renungkan Sejenak : Saat sahadatku sebatas ucapan, saat Shalatku sebatas gerakan, saat shaumku sebatas kewajiban, saat zakatku sebatas keharusan, saat itu pula kesia-siaan terbesar ada pada diriku. Saat islamku sebatas pakaian, identitas dan faktor keturunan, saat imanku sebatas ucapan saat itu pula penipun terbesar ada pada diriku. Saat kematian dianggap hanya cerita, saat neraka hanya diannggap sekedar berita, saat itu pula kesombongan terbesar ada pada diriku. Saat takdir dianggap tak mungkin saat Tuhan dianggap nihil, saat itu pula kedurhakaan terbesar ada pada diriku. (Sumber Buku Rahasia).
Dari apa yang telah saya paparkan diatas marilah kita memfungsikan hati dan pikiran kita, merenungkan dan memahami kenapa kita diciptakan, untuk apa kita diciptakan, maka akan lahir keyakinan yang mendalam dan menghasilkan tindakan yang nyata segera menemukan pelajaran yang bermanfaat dalam mengarungi hidup kita yang begitu singkat.
Ingat kesibukan yang disertai iman yang disirami ilmu akan berbuah amal yang baik dan amal yang ditanami keikhlasan akan mengundan cinta Allah SWT. Semoga apa yang saya tuliskan ini bermamfaat bagi kita semua terutama bagi penulis sendiri.
Amin Ya Robbalalamin..
Assalamualaikum wr....wb....


Move On In Muharram

HIJRAH.
HIJRAH JANGAN SETENGAH-SETENGAH, HIJRAHLAH UNTUK ISTIQOMAH.
Oleh: Tarmizi M. Yusuf

Hijrah jangan setengah-setengah, Hijrahlah untuk istiqomah.
“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AnNisa: 100)
Sebuah kata hijrah, mungkin sudah tidak asing terdengar ditelinga, terucap dari mulut kita dan terkenal karena sering dibicarakan. Waktu demi waktu telah kita lalui, banyak kisah yang telah terlewatkan, namun sedikit di antara kita yang menyadari atau mengerti akan esensi yang terkandung dalam sejarah yang pernah dilalui, padahal Allah tidak menjadikan suatu peristiwa dengan sia-sia. Ada ibrah (pelajaran) yang patut diambil dan diingat untuk dijadikan barometer terhadap kehidupan yang akan dijelang. “Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS: Yusuf: 111).
Banyak sejarah dan peristiwa yang telah digoreskan oleh nabi Muhammad saw. Di antara goresan sejarah yang sangat monumental dalam perjalanan hidup Rasulullah saw adalah peristiwa hijrah Rasulullah saw dan sahabatnya dari kota Mekkah ke kota Madinah. Dalam peristiwa tersebut tampak sosok manusia yang begitu kokoh dalam memegang prinsip yang diyakini, tegar dalam mempertahankan aqidah, dan gigih dalam memperjuangkan kebenaran. Sehingga sejarah pun dengan bangga menorehkan tinta emasnya untuk mengenang sejarah tersebut agar dapat dijadikan tolok ukur dalam pembangunan masyarakat madani dan rabbani, tegak di atas kebaikan, tegas terhadap kekufuran dan lemah lembut terhadap sesama muslim.
Lantas apa sebenarnya makna hijrah?
Apa hakikat dari hijrah itu sendiri?
Makna Hijrah dapat diartikan dalam : (1) makna bahasa, (2) makna historis (sejarah), dan (3) makna syar'i. Adapun dalam pengertian bahasa, arti hijrah adalah perpindahan untuk mukim dari suatu tempat ke tempat lain yang baru. Dalam pengertian bahasa ini, sesungguhnya telah menjadi sifat umat manusia dalam kesejarahan hidupnya di muka bumi, bahwa mereka telah hidup berhijrah sejak kelompok pertama manusia ada di muka bumi ini. Dikarenakan hijrah merekalah, maka terbentuk berbagai suku dan bangsa yang menghuni di berbagai wilayah yang tersebar di seluruh daratan bumi. Mengapa mereka berhijrah? Tiada lain kecuali karena untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik.
Adapun secara historis, makna hijrah diartikan sebagai kepindahan Nabi saw beserta para sahabatnya dari kota mekah ke kota madinah. Peristiwa hijrah Nabi saw ini diawali dengan kondisi penindasan yang dialami oleh beliau saw bersama sahabatnya di kota Mekah sebagai kota kelahiran dan asal mereka. Beliau beserta sahabat-sahabatnya dalam kurun waktu 13 tahun di kota Mekah menghadapi rintangan dan perlawanan yang sangat berat dari mayoritas penduduk Mekah. Dari mulai hujatan, penyiksaan, pembaikotan sampai upaya pembunuhan telah dihadapi oleh kaum muslimin selama mereka berada di Mekah. Upaya menghindarkan diri telah Nabi saw perintahkan kepada sebagian kaum muslimin dengan cara berhijrah hingga ke negeri Habasyah (Etyopia) dan Madinah. Hingga pada tahun ke 13 kenabian, saat kaum musyrik Mekah bersepakat untuk membunuh Nabi saw sebagai puncak permusuhan mereka, maka Allah swt perintahkan kepada NabiNya untuk berhijrah pula ke kota madinah. Allah swt berfirman: "Dan ingatlah ketika orang-orang kafir memikirkan tipu-daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memanjarakanmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya. " (QS. Al Anfal: 30)
Sedangkan  pengertian  hijrah  menurut   syar'i   adalah  bahwa  seorang  muslim 'diperintahkan untuk melepaskan diri dari kondisi keburakan dan merabahnya menjadi kebaikan, Rasulullah saw bersabda; "Berhijrah adalah meninggalkan segala kenistaan dan pelanggaran". (HR. Ibnu Majah)
Adakalanya upaya seseorang untuk meninggalkan keburukan, kenistaan dan pelanggaran, tidak mungkin terealisasi kecuali dengan meninggalkan lingkungannya bahkan tempat tinggalnya, oleh karenanya Allah swt menjelaskan dalam firmanNya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rizqi yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian menjumpainya sebelum sampai ke tempat yang dimaksud, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. " (QS: An-Nisa : 100)
Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah swt untuk menolong hambanya yang berhijrah dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik. Pertolongan Allah swt ditunjukkan dengan jaminan bahwa rizqi dariNya sangat banyak, dan Allah swt memberikan rizqi kepada hambaNya yang dihekendaki, dan Dia menghendaki untuk melimpahkan rizqi kepada hamba-hambaNya yang berhijrah menuju kebaikan.
Adapun hakikat hijrah itu sendiri yaitu mensucikan diri. Hijrah dalam arti menjauhi kemaksiatan dan menyembah berhala, seperti dalam firman Allah, “Dan perbuatan dosa, maka jauhilah” (QS: Muddatstsir: 5) dan firman-Nya, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS: Muzammil: 10). Kedua ayat di atas turun di masa Rasulullah saw memulai dakwah, pada saat itu nabi saw diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi diri dari perbuatan keji dan mungkar dan dari mengikuti perbuatan syirik dan dosa seperti yang dilakukan oleh orang musyrik di kota Mekkah saat itu.
Di samping itu Allah juga memerintahkan kepada beliau untuk bersabar terhadap cacian, cercaan, makian, siksaan, intimidasi dan segala bentuk penolakan yang bersifat halus dan kasar, dan berusaha untuk menghindar dari mereka dengan cara yang baik. Cara ini pula yang diterapkan oleh Rasulullah dalam berdakwah kepada para sahabatnya hingga pada akhirnya beliau berhasil mencetak generasi yang berjiwa bersih, berhati suci, bahkan membentuk generasi yang ideal, bersih dari kemusyrikan, kekufuran dan kemunafikan, kokoh dan tangguh, dan memiliki ikatan ukhuwah islamiyah yang erat. Padahal sebelumnya mereka tidak mengenal Islam bahkan phobi terhadapnya, namun setelah mengenal Islam dan hijrah ke dalamnya, justru menjadi pionir bagi tegaknya ajaran Islam.
Kisah Umar bin Khathab ra, menarik untuk kita simak; beliau di masa awal dakwah sebelum memeluk Islam dikenal dengan julukan “penghulu para pelaku kejahatan”, namun setelah hijrah beliau menjadi pemimpin umat yang disegani, tawadhu dan suka menolong orang miskin, beliau menjadi tonggak bagi tegaknya ajaran Islam.
Begitupun dengan kisah Khalid bin Walid, Abu Sofyan dan sahabat yang lainnya, menjadi bukti konkret akan perjalanan hijrah mereka dari kegelapan, kekufuran dan kemaksiatan menuju cahaya Allah. Karena itu pula Rasulullah saw pernah bersabda, “Sebaik-baik kalian di masa Jahiliyah, sebaik-baik kalian di masa Islam, jika mereka mau memahami”.
Hijrah ini sangatlah berat, karena di samping harus memiliki kesabaran, juga dituntut memiliki ketahanan ideologi dan keyakinan agar tidak mudah terbujuk rayuan dan godaan dari kenikmatan dunia yang fana, dan memiliki ketangguhan diri dan tidak mudah lentur saat mendapatkan cobaan dan siksaan yang setiap saat menghadangnya, berusaha membedakan diri walaupun mereka hidup di tengah-tengah mereka, karena ciri khas seorang muslim sejati “yakhtalitun walaakin yatamayyazun” (bercampur baur namun memiliki ciri khas tersendiri/tidak terkontaminasi)
Melihat kenyataan yang ada memang hijrah pada saat ini sangat relevan untuk diterapkan terutama yang berkaitan dengan hijrah nafsiyah (individu) dengan berusaha menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang menyimpang dan berusaha memperbaiki diri untuk bersih dari segala perbuatan kotor, sehingga hati, jiwa dan raga serta segala perbuatan menjadi suci. Dan setelah itu berusaha menghijrahkan keluarga, kerabat, lingkungan dan masyarakat yang ada di sekitarnya (terdekat), hingga pada akhirnya membentuk komunitas yang siap melakukan hijrah. Selanjutnya hijrahlah untuk istiqomah. Istiqomah untuk mempertahankannya, istiqomah untuk memperjuangkannya dan istiqomah untuk menyebarkannya.

Demikianlah hendaknya yang harus kita pahami akan makna dan hakikat hijrah, dimana krisis multidimensi sudah begitu menggejala dalam tubuh umat Islam, dan diperparah dengan terkikisnya norma-norma Islam dalam tubuh mereka, perlu adanya pembenahan diri sedini mungkin, diawali dari diri sendiri, lalu setelah itu anggota keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat luas. “Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Wallahu a’lam.


#MoveOnInMuharram