Jumat, 13 November 2015

Akhwat di Larut Malam


Oleh : Fitriyanti (Koordinator Muslimah FKMI Nuruddin Fisip Untan 2013-2014)

Soal akhwat yang pulang larut malam. Sebenarnya, apakah penyebab akhwat dipandang tidak baik dan bahkan dilarang untuk pulang malam? Adakah dalil yang menyatakan bahwa akhwat dilarang pulang malam?
Akhwat dilarang untuk pulang malam pada dasarnya adalah untuk menghindari dua fitnah. Yang pertama adalah fitnah keamanan. Memang sudah diartikan secara klasik bahwa pada malam hari yang gelap, kriminalitas dan kejahatan akan banyak dilakukan, di mana pun tempatnya dan apa pun bentuknya. Selain itu, dalam QS. Al-Falaq ayat 1-3 ( Katakanlah: “aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari kejahatan malam apabila gelap gulita….”) disebutkan “kejahatan malam apabila gelap gulita”. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran pun telah mengisyaratkan bahwa pada malam hari ada banyak kejahatan dilakukan. Hal tersebut tentu akan menjadi ancaman berbahaya, khususnya bagi para akhwat yang tak dapat dipungkiri bahwa mayoritas tidak mampu melakukan pelindungan diri dari kejahatan.
Sedangkan fitnah yang kedua adalah fitnah khalwat dengan lain jenis. Pada kondisi tertentu, ketika akhwat tidak berani pulang sendirian pada malam hari, maka akan ada ikhwan yang merasa kasihan dan kemudian mengantarkannya. Semoga niatnya tercatat sebagai kebaikan. Namun, pulang larut malam bersama lawan jenis bukanlah sebuah tindakan yang bijak karena justru akan menimbulkan berbagai macam asumsi masyarakat, misalnya tentang “apa yang dilakukan oleh sepasang ikhwan dan akhwat sampai malam begini?”. Juga asumsi-asumsi lain yang nantinya berbuah fitnah.
Para ulama pun telah memberi isyarat bahwa malam hari itu banyak bertebaran fitnah sehingga lebih baik banyak berzikir di rumah dari pada berkeliaran di luar rumah.
Fitnah-fitnah yang ada (terutama yang sebenarnya bisa dicegah tapi timbul karena perbuatan sendiri) akan berpotensi menurunkan izzah (wibawa, harga diri, kemuliaan) seorang akhwat. Padahal, seorang akhwat dengan segala atribut kemuslimahannya harusnya memiliki dan mampu menjaga izzah serta menjadi teladan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak pulang larut malam adalah salah satu bentuk dakwah dengan keteladanan.
Memang, tidak ada dalil yang melarang akhwat pulang malam, tapi justru lebih dari itu, dalam sebuah hadis disebutkan, “Tidak halal bagi wanita Muslimah untuk bermusafir kecuali bersamanya mahromnya”(HR:Bukhori).
Pergi bersama mahromkah para akhwat yang pulang malam itu? Kebanyakan tidak. Dalam hadis tersebut bahkan wanita dilarang keluar rumah sama sekali. Namun, dalam menyikapi hadis ini, para ulama shalafussolih telah memberikan batasan-batasan yang sangat tegas bahwa muslimah diharamkan bepergian tanpa mahromnya kecuali dalam tiga hal, yaitu: untuk menyelamatkan akidahnya, menuntut ilmu, dan untuk hal-hal yang bersifat durori. Semoga ini bisa menjadi pertimbangan dalam menanggapi larangan pulang malam.
Fenomena akhwat pulang malam memang seperti sulit dihindari jika alasannya tugas dan amanah. Apalagi bagi akhwat yang tinggal di kos-kosan atau kontrakan yang notabene tidak mendapat pengawasan intensif orang tua. Mereka, termasuk diri ini, akan lebih bebas untuk pulang larut malam.
Saya teringat nasehat seorang saudara yang mengingatkan ancaman fitnah di malam hari, namun saya meyakinkan bahwa saya akan baik-baik saja. Lantas, beliau mengondisikan saya untuk membayangkan jika orang tua kita mengetahui kita, putri kesayangannya, pulang larut malam. Akan ridakah mereka? Tentu tidak. Mereka akan sangat khawatir jika putrinya belum pulang ketika malam beranjak larut. Kita hanya akan menyiksa mereka dalam kecemasan. Lalu, jika orang tua pun tidak rida, bagaimana dengan Allah? Sementara “rida Allah bergantung pada rida orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim). Jika Allah tidak rida, berarti sia-sia saja apa yang telah dan akan kita lakukan.
Jika kita yakin bahwa dua fitnah yang dipaparkan di atas akan jauh dari kita, sehingga merasa saah saja pulang malam, jangan lupakan juga bahwa kita memiliki dan harus menjaga izzah sebagai muslimah. Selain itu, pertimbangkan pula keridaan orang tua atas apa yang kita lakukan, sebab rida Allah bergantung pada rida mereka.
Sebaiknya, kita lebih selektif lagi dalam mengikuti kegiatan yang selesai di malam hari. Apalagi jika kita pergi tanpa mahrom. Semoga pemikiran dengan bahasa sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita. Menjadi renungan bagi diri sendiri dan kita semua, akhwat yang terjaga izzahnya. Wallahoa’lam bishowab.

Semoga bermanfaat...

REFLEKSI

Oleh : Bandi Hermawan (Ketua Umum FKMI Nuruddin Fisip Untan 2013-2014)

Jadilah kalian PEMUDA-PEMUDA TANGGUH dan PENGUKIR SEJARAH

Assalamu’alaikum warahmatullai wabarakatuh
Kusampaikan dengan segenap cinta, untuk kalian para pengemban dakwah
Kusampaikan dengan seluruh jiwa, untuk kalian para penerus risalah
Kusampaikan dengan segenggam cita, untuk kalian para pewaris peradaban
Detik ini mungkin tak akan terulang…
Momentum ini juga tak akan kembali…
Dan setiap pertemuan boleh jadi hanya sekali..
Karenanya untuk yang tak kan terulang, untuk semua yang tak kembali, dan untuk segala yang hanya sekali…
Izinkan saya sampaikan nasehat ini, bukan untuk mencari puji, atau karena diri lebih mulia, namun karena khilaf yang masih terlalu banyak, agar jadi pelepas tanggung jawab di sisi Allah kelak…agar kita selalu bersama di jalan dakwah ini…
Jalan yang telah banyak darah tertumpah
Jalan yang telah bergugur berjuta nyawa
Jalan yang telah terurai linangan air mata menjadi sungai cinta
Jalan yang hanya inginkan akal, hati dan jiwamu tertuju pada-Nya
Jalan yang hanya inginkan ragamu berlelah-lelah disisi-Nya
Inilah jalan yang disesali di akhirat oleh mereka yang dahulu enggan melaluinya
Inilah jalan yang disyukuri di akhirat oleh mereka yang bersusah payah melewatinya…
Adik-adikku,
Allah tak pernah sedikitpun tanpa sengaja memilih orang-orang yang akan diperkerjakan untuk membela agama-Nya..
Allah Yang Maha Sadar, tahu persis siapa orang-orang yang akan dia pilih untuk berada di jalan dakwah ini hingga akhir hayatnya…
Karena memang sejatinya DAKWAH ini, dengan segenap pekerjaannya adalah PROYEK ALLAH, maka Allahlah yang mencari para pekerjanya, Allah pula yang membiayai semua pendanaannya dan Allah pula yang akan selalu menjaga keberlangsungannya di muka bumi
Jika begitu, 
Tak pantaslah kita (sebagai pekerja) merasa punya JASA atas dakwah ini
Tak pantaslah kita (sebagai pekerja) merasa paling BANYAK PENGORBANANNYA atas dakwah ini
Tak pantaslah kita (sebagai pekerja) merasa paling PENTING atas andil dalam keberhasilan dakwah ini
Karena, ada atau tiadanya kita di dalam barisan dakwah ini, tak sedikitpun punya efek atas keberlangsungannya…
CATAT INI BAIK-BAIK DALAM HATI KALIAN…
Dakwah ini akan terus bergulir, akan terus berjalan, bahkan tanpa KALIAN seorangpun…ALLAHU AKBAR, DIALAH PENGUASA LANGIT DAN BUMI, ALAM SEMESTA INI DALAM GENGGAMANNYA…
Jelaslah,
Bahwa DAKWAH ini adalah KERJA
Bergabung dalam DAKWAH ini artinya KESIAPAN untuk BEKERJA tanpa henti
Bergabung dalam DAKWAH ini artinya KESIAPAN untuk BEKERJA tanpa puja-puji manusia, hanya inginkan puja-puji dari-Nya
Janganlah ketiadaan penghargaan dari manusia atas kerja-kerja DAKWAH kalian, membuat kalian lemah dan surut ke belakang…
YAKINLAH bahwa ALLAH MAHA MELIHAT pekerjaan kalian, dan YAKINLAH bahwa DIA pula yang akan membalas semua jerih payah kalian.
BUKANKAH BALASAN DARI ALLAH adalah LEBIH BAIK DARI PENGHARGAAN MAKHLUK-MAKHLUKNYA…??? Mana yang kalian kejar…??? Mana yang paling kalian inginkan…???
Jika bergabungnya KALIAN dalam Dakwah ini hanya untuk memperdalam ilmu agama dan menyempurnakan amal yaumi…saya katakan sejak awal, lebih baik kalian menyingkir…
MEMPERDALAM ILMU AGAMA DAN SEMPURNANYA AMAL YAUMI tak mesti berada dalam barisan DAKWAH…kalian bisa lakukan sendiri…
Jika bergabungnya KALIAN dalam Dakwah ini hanya untuk BERBANGGA-BANGGA pada tingginya JABATAN dalam LDK atau LDF…saya katakan sejak awal, lebih baik kalian minggir…
TAK ADA TEMPAT di sini, untuk mereka yang sibuk berbangga diri…
Jika bergabungnya KALIAN dalam Dakwah ini hanya ingin DIGELARI orang sholeh, sholehah, ADS atau ADK…saya katakan sejak awal, DAKWAH ini hanya punya satu gelar, SYUHADA’, itupun baru tersemat jika KALIAN telah tiada, tak lagi hidup di dunia…
Karena semua EGO Pribadi, semua perasaan Kebanggaan, dan semua keinginan meraih GELAR adalah KARAT-KARAT PENYAKIT yang menggerogoti UKHUWAH KITA…
Penyakit yang melumpuhkan KEIMANAN kita, mengaburkan CINTA kita kepada sesama IKHWAH…
DAKWAH ini juga UKHUWAH…mustahil kita bisa istiqomah dalam dakwah tanpa berukhuwah…Sedangkan Akar Ukhuwah adalah IMAN…
INGAT…Kita BERUKHUWAH bukan karena kesamaan hobi, kesukaan, kecocokan kesenangan dan semua ukuran duniawi…Kita berUKHUWAH karena kita meyakini, membenarkan dan mengamalkan perintah Allah dengan kerelaan yang tulus hanya kepada-Nya…
Kita berUKHUWAH karena pekerjaan kita sama, satu proyek untuk memenangkan agama Allah…bukan pekerjaan yang lain…Karenanya kita tidak sedang mencari PENGHIDUPAN dari dakwah…laksana kata seorang ulama’: ‘Hidup-hidupilah Dakwah, jangan mencari kehidupan dari dakwah’.
Karena akar ukhuwah adalah IMAN, maka cara menumbuhkannya juga harus dengan cara-cara yang bisa menyuburkan keimanan, bukan dengan cara-cara yang melemahkan bahkan mematikan KEIMANAN itu sendiri…
UKHUWAH juga UJIAN KEBERSAMAAN
Ukhuwah itu tidak diuji saat kita BERPISAH...Ukhuwah diuji justru saat kita BERSAMA, saling melihat CELA...disanalah kita berhadapan pada 2 pilihan, menyuburkannya ataukah menjadikannya gersang...Suburnya Ukhuwah karena BAIK SANGKA, Gersangnya Ukhuwah karena BURUK SANGKA...Dan pada kalian, Aku memilih utk menyuburkannya, walaupun saling tahu bahwa kita tak sempurna...
UKHUWAH juga UJIAN PERASAAN
Saat suka berukhuwah, saat duka entah kemana…
Bukan, bukan seperti itu tuntunan UKHUWAH yang tercontoh dahulu, UKHUWAH adalah suka duka kita jalani bersama, laksana satu tubuh, kita satu, tak berpisah dan tak ada yang bisa memisahkannya kecuali ALLAH…Satu sakit semua merasakan sakit, satu senang semuapun ikut senang…satu bermaksiat yang lain berikan nasehat. Satu berbuat taat, yang lain ikut sempurnakan…begitulah UKHUWAH yang diajarkan Nabi dan para sahabat 1400 tahun yang silam…
Satu lagi, 
Yang selalu jadi sekat ukhuwah adalah Maksiat…
Mereka yang senang bermaksiat tanda bahwa akal, jiwa, dan hatinya belumlah MATANG…UMAT Nabi Luth adalah seburuk-buruk contoh dalam bermaksiat.
Allah menegur mereka : Alaisaminkum rajulurrasyid
Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih Suci bagimu, Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak Adakah di antara kalian seorang yang MATANG ?" (Qs. Huud : 78)
2 sebab hobi maksiat
1. Jarang ingat Allah, hatinya lumpuh dalam merasakan kebersamaan Allah
2. Jarang ingat Mati, jiwanya lalai terlupa bahwa raga akan kembali ke tanah, bahwa jiwa akan datang menghadap Allah
Maksiat itu tanda hati yang khianat…
Maksiat itu tanda jiwa yang enggan tuk taat…
Maksiat itu tanda akal yang gemar mendebat…
Karenanya siapapun (sendiri atau bersama-sama) yang gemar maksiat pastilah akhirnya dilaknat…
Laknat dari Allah berupa ditutupnya pintu-pintu kebaikan, dijauhkannya kita dari orang-orang baik, dibiarkannya kita tenggelam semakin jauh dalam maksiat, disulitkannya segala urusan, dan ditundukkannya kita kepada musuh-musuh dakwah…hingga orang-orang pendengki itu berkuasa kepada diri dan organisasi kalian…
Siapa yang menjaga tubuhnya dari maksiat di masa muda, maka Allah akan menjaga tubuhnya di masa tua...
Inilah Muharram, inilah Bulan Hijrah
Muharram hadir untuk mereka yang siap berhijrah dari maksiat masa lalunya, menyesalinya, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi di esok hari
Muharram hadir untuk mereka yang selalu merajut ukhuwah, mengubur dalam-dalam ego diri, perasaan kebanggaan, dan ingin digelari…
Muharram hadir untuk meraka yang mencintai Allah, Rasul-Nya dan Dakwah ini melebihi kecintaannya kepada makhluk-makhluk lainnya...
Karena itu,
Adik-adikku, mari dipermulaan tahun hijriyah ini kita bersegera memohon ampunan agar Allah berkenan bukakan pintu-pintu keberkahan, Allah berkenan tunjukkan jalan-jalan kelapangan dalam setiap urusan dakwah kita.
Kita berhijrah dari kelamnya masa lalu, menuju terangnya cahaya di hari depan...
Kita berhijrah dari segala keburukan menuju kebaikan yang menentramkan...
Waktu tak akan pernah terulang, UKIRLAH SEJARAH 
Lakukan kerja-kerja besar, agar jiwa dan semangat kalian tidak melemah
Buatlah karya-karya hebat, agar generasi setelah kalian tidak mencatat apapun kecuali KEBAIKAN…agar generasi setelah kalian kesulitan meniru kerja-kerja kalian…karena Keikhlasan kalian, karena jujurnya Ukhuwah kalian, karena banyaknya prestasi kalian…
Itulah yang dikatakan Umar RA saat berhadapan di depan jasad Abu Bakar RA : 
“Wahai Khalifah Rasulullah, engkau telah membuat orang setelahmu sulit untuk menirumu”
Mintalah nasehat kepada yang tua, karena mereka lebih dulu bertemu dengan kehidupan…dan mungkin lebih banyak amalnya dari kalian. Sayangilah yang muda, karena boleh jadi mereka lebih mulia di hadapan Allah karena sedikitnya dosa yang terlaku.
Janganlah jadi orang yang sombong, cirinya : Tidak mau menerima nasehat dan Menganggap dirinya lebih baik, lebih mulia, lebih hebat dari orang lain
Jadilah QUDWAH sebelum DAKWAH...
Ashlih nafsaka wad’u ghairuka...perbaiki diri kalian dan ajaklah orang lain
Dakwah ini hancur bukan karena musuh-musuh yang menindasnya...
Dakwah ini lemah bukan karena lawan yang menyerangnya...
Tapi karena Para Da’i-Da’inya telah sibuk menyeru orang lain, sedangkan mereka melupakan diri mereka sendiri...
Para Da’i sibuk mengajak orang lain berbuat baik, sedangkan mereka selalu mengerjakan perbuatan dosa dan maksiat...
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Qs. Al Baqarah (2) : 44)
Bergaulah kepada setiap orang dengan akhlak yang baik…sapa mereka, ajaklah mereka kepada kebaikan, jangan sholeh sendirian…
Jangan pernah merasa Kalian paling SHOLEH, sedangkan yang lain BEJAT…
Jagalah amanah, dan jangan khianati…
Beristikharahlah dan Bermusyawarahlah dalam mengambil setiap keputusan, karena bimbingan Allah ada dalam istikharah dan musyawarah…
Jika merasa berat dan tak sanggup menunaikan amanah, mundurlah sejak awal, jangan jadi beban bagi dakwah...
Tetap jaga prestasi akademik kalian, tekunlah dalam belajar, rakuslah kepada ilmu, perluas wawasan dan pergaulan, namun tidak lebur…
Istiqomahlah dalam tarbiyah, karena disanalah muara semua hidayah, tarbiyah memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya tak akan bisa diraih tanpa tarbiyah
Fahami fikrah ISLAM kalian dengan baik, dan peganglah ia dengan teguh dan kukuh, tekunkan diri dalam ikhlas, agar sempurna amalmu di hadapan Allah...
Beragamalah kalian dengan kefahaman, bukan dengan nafsu...
Beragamalah kalian dengan kelembutan, bukan dengan berlebih-lebihan...
Jika kalian terlalu keras dalam beragama, maka Ia akan mematahkan tulang punggung kalian...
Istiqomahlah dalam dakwah, azzamkan tekad dan berjanjilah kepada Allah, bahwa kalian akan tetap berada dalam dakwah ini sampai MATI…
Terakhir
Duhai adik-adikku, 
Jadilah kalian generasi PENGAMAL, bukan generasi PENGAMAT...
Jadilah kalian generasi PENYELAMAT, bukan generasi PENGKHIANAT...
Jadilah kalian generasi AHLI TAUBAT, bukan generasi AHLI MAKSIAT…
Jadilah kalian generasi MODERAT, bukan generasi PENGHUJAT..
Jadilah kalian generasi PEMBERANI, bukan generasi PENCARI PUJI...
Dan jadilah kalian generasi PENGHUNI SURGA, bukan generasi AHLI NERAKA...
Salam cinta, sepenuh Ukhuwah untuk langkah yang semoga selalu bersama di dunia dan di akhirat kelak…
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jumat, 23 Oktober 2015

Forum Komunikasi Mahasiswa Islam (FKMI) Nuruddin FISIP UNTAN Pontianak Gelar Peringatan Tahun Baru Hijriyah


         Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1437 H, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam (FKMI) Nuruddin FISIP UNTAN menyelenggarakan berbagai kegiatan yang kali ini bertajuk Nuruddin Muharram Islamic Festival (NMIF) yang bertemakan tentang Feel The New Spirit Of Hijra. Dimulai dengan Pawai Muharram (14/10) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pontianak bersama Lembaga Dakwah Kampus/Fakultas bersama Puskomda Kalbar, unit-unit kegiatan mahasiswa dan ormas-ormas lainnya. Pawai dilakukan keliling beberapa jalan dikota Pontianak yang dimeriahkan oleh Grup Drum Band dari beberapa asal sekolah di Kota Pontianak dan Pergelaran lomba Mobil Hias. Kemudian diselenggarakan Grand Opening Studi Islam kampus (24/10) yang merupakan kegiatan Pembukaan Mentoring Islam khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas tanjungpura. Lomba Kreasi Hijab Syar'i (23/10) kemudian dilanjutkan dengan Talkshow Inspiratif (23/10) yang terbuka untuk umum, khususnya Mahasiswa di Universitas tanjungpura. dan akan ditutup dengan kegiatan Seminar dan training Motivasi (24/10) oleh Motivator Nasional, Fakhrul Ar-Razi (Penulis Buku Best Seller Agar Kuliah Tak Sekedar Status, Duta Anti Narkoba dan Entrprenuer Muda). kegiatan ini diharapkan dapat menteladani semangat hijrah Nabi Muhammad SAW dan membangun Mahasiswa yang Unggul dan berkarakter yang Beriman, Berilmu dan Beramal Shaleh.

Agenda Grand Opening Studi Islam Kampus (STUDIKA) FISIP UNTAN 2015



Pawai 1 Muharram 1437 H


Talkshow Inspiratif
"Hijrahku, Hijrah Untuk Istiqomah"

Pemenang Lomba Kreasi Hijab Syar'i

Training Motivasi bersama Bg Fakhrul Ar Razi (Motivator Nasional, Penulis Buku Bes Seller)


#MoveOnInMuharram
#Hijrahku,HijrahUntukIstiqomah

Tuhan Maaf Saya Sibuk

"Tuhan Maaf Saya Sibuk"
Oleh : M. Agustiar Akbar

Bebicara kesibukan adalah sesuatu yang sangat sering terjadi dikehidupan kita. Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun kita selalu sibuk dengan aktivitas kita, bahkan terkadang kita lupa atas kewajiban kita sebagai makhluk yang telah diciptakan-Nya, kita lupa akan kewajiban yang semestinya kita dahulukan. kita lupa, kita terlena dengan kehidupan dunia yang hanya sementara, kita terbuai oleh indahnya dunia. Sahabatku yang sangat ku cintai, manusia hanyalah pengendara diatas punggung usianya, digulung hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun tanpa terasa nafasnya terus berjalan. Sebenarnya dunialah yang manusia jahui dan liang kuburlah yang manusia dekati. Sahabat-sahabatku yang aku cintai dan aku sayangi, jangan sampai kesibukan kita membuat hati kita jauh dari-Nya karena kita diciptakan didunia yang sementara ini hanya untuk beribadah kepada-Nya untuk bekal kita menuju hidup diakhirat yang kekal abadi. Entah coretan kisah apa yang sudah menghiasi buku catatan amal kita, rasanya masih sedikit tinta warna kebaikan, sangatlah tidak berimbang dengan usia yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Mari kita renungkan Sejenak : Saat sahadatku sebatas ucapan, saat Shalatku sebatas gerakan, saat shaumku sebatas kewajiban, saat zakatku sebatas keharusan, saat itu pula kesia-siaan terbesar ada pada diriku. Saat islamku sebatas pakaian, identitas dan faktor keturunan, saat imanku sebatas ucapan saat itu pula penipun terbesar ada pada diriku. Saat kematian dianggap hanya cerita, saat neraka hanya diannggap sekedar berita, saat itu pula kesombongan terbesar ada pada diriku. Saat takdir dianggap tak mungkin saat Tuhan dianggap nihil, saat itu pula kedurhakaan terbesar ada pada diriku. (Sumber Buku Rahasia).
Dari apa yang telah saya paparkan diatas marilah kita memfungsikan hati dan pikiran kita, merenungkan dan memahami kenapa kita diciptakan, untuk apa kita diciptakan, maka akan lahir keyakinan yang mendalam dan menghasilkan tindakan yang nyata segera menemukan pelajaran yang bermanfaat dalam mengarungi hidup kita yang begitu singkat.
Ingat kesibukan yang disertai iman yang disirami ilmu akan berbuah amal yang baik dan amal yang ditanami keikhlasan akan mengundan cinta Allah SWT. Semoga apa yang saya tuliskan ini bermamfaat bagi kita semua terutama bagi penulis sendiri.
Amin Ya Robbalalamin..
Assalamualaikum wr....wb....


Move On In Muharram

HIJRAH.
HIJRAH JANGAN SETENGAH-SETENGAH, HIJRAHLAH UNTUK ISTIQOMAH.
Oleh: Tarmizi M. Yusuf

Hijrah jangan setengah-setengah, Hijrahlah untuk istiqomah.
“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AnNisa: 100)
Sebuah kata hijrah, mungkin sudah tidak asing terdengar ditelinga, terucap dari mulut kita dan terkenal karena sering dibicarakan. Waktu demi waktu telah kita lalui, banyak kisah yang telah terlewatkan, namun sedikit di antara kita yang menyadari atau mengerti akan esensi yang terkandung dalam sejarah yang pernah dilalui, padahal Allah tidak menjadikan suatu peristiwa dengan sia-sia. Ada ibrah (pelajaran) yang patut diambil dan diingat untuk dijadikan barometer terhadap kehidupan yang akan dijelang. “Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS: Yusuf: 111).
Banyak sejarah dan peristiwa yang telah digoreskan oleh nabi Muhammad saw. Di antara goresan sejarah yang sangat monumental dalam perjalanan hidup Rasulullah saw adalah peristiwa hijrah Rasulullah saw dan sahabatnya dari kota Mekkah ke kota Madinah. Dalam peristiwa tersebut tampak sosok manusia yang begitu kokoh dalam memegang prinsip yang diyakini, tegar dalam mempertahankan aqidah, dan gigih dalam memperjuangkan kebenaran. Sehingga sejarah pun dengan bangga menorehkan tinta emasnya untuk mengenang sejarah tersebut agar dapat dijadikan tolok ukur dalam pembangunan masyarakat madani dan rabbani, tegak di atas kebaikan, tegas terhadap kekufuran dan lemah lembut terhadap sesama muslim.
Lantas apa sebenarnya makna hijrah?
Apa hakikat dari hijrah itu sendiri?
Makna Hijrah dapat diartikan dalam : (1) makna bahasa, (2) makna historis (sejarah), dan (3) makna syar'i. Adapun dalam pengertian bahasa, arti hijrah adalah perpindahan untuk mukim dari suatu tempat ke tempat lain yang baru. Dalam pengertian bahasa ini, sesungguhnya telah menjadi sifat umat manusia dalam kesejarahan hidupnya di muka bumi, bahwa mereka telah hidup berhijrah sejak kelompok pertama manusia ada di muka bumi ini. Dikarenakan hijrah merekalah, maka terbentuk berbagai suku dan bangsa yang menghuni di berbagai wilayah yang tersebar di seluruh daratan bumi. Mengapa mereka berhijrah? Tiada lain kecuali karena untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik.
Adapun secara historis, makna hijrah diartikan sebagai kepindahan Nabi saw beserta para sahabatnya dari kota mekah ke kota madinah. Peristiwa hijrah Nabi saw ini diawali dengan kondisi penindasan yang dialami oleh beliau saw bersama sahabatnya di kota Mekah sebagai kota kelahiran dan asal mereka. Beliau beserta sahabat-sahabatnya dalam kurun waktu 13 tahun di kota Mekah menghadapi rintangan dan perlawanan yang sangat berat dari mayoritas penduduk Mekah. Dari mulai hujatan, penyiksaan, pembaikotan sampai upaya pembunuhan telah dihadapi oleh kaum muslimin selama mereka berada di Mekah. Upaya menghindarkan diri telah Nabi saw perintahkan kepada sebagian kaum muslimin dengan cara berhijrah hingga ke negeri Habasyah (Etyopia) dan Madinah. Hingga pada tahun ke 13 kenabian, saat kaum musyrik Mekah bersepakat untuk membunuh Nabi saw sebagai puncak permusuhan mereka, maka Allah swt perintahkan kepada NabiNya untuk berhijrah pula ke kota madinah. Allah swt berfirman: "Dan ingatlah ketika orang-orang kafir memikirkan tipu-daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memanjarakanmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya. " (QS. Al Anfal: 30)
Sedangkan  pengertian  hijrah  menurut   syar'i   adalah  bahwa  seorang  muslim 'diperintahkan untuk melepaskan diri dari kondisi keburakan dan merabahnya menjadi kebaikan, Rasulullah saw bersabda; "Berhijrah adalah meninggalkan segala kenistaan dan pelanggaran". (HR. Ibnu Majah)
Adakalanya upaya seseorang untuk meninggalkan keburukan, kenistaan dan pelanggaran, tidak mungkin terealisasi kecuali dengan meninggalkan lingkungannya bahkan tempat tinggalnya, oleh karenanya Allah swt menjelaskan dalam firmanNya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rizqi yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian menjumpainya sebelum sampai ke tempat yang dimaksud, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. " (QS: An-Nisa : 100)
Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah swt untuk menolong hambanya yang berhijrah dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik. Pertolongan Allah swt ditunjukkan dengan jaminan bahwa rizqi dariNya sangat banyak, dan Allah swt memberikan rizqi kepada hambaNya yang dihekendaki, dan Dia menghendaki untuk melimpahkan rizqi kepada hamba-hambaNya yang berhijrah menuju kebaikan.
Adapun hakikat hijrah itu sendiri yaitu mensucikan diri. Hijrah dalam arti menjauhi kemaksiatan dan menyembah berhala, seperti dalam firman Allah, “Dan perbuatan dosa, maka jauhilah” (QS: Muddatstsir: 5) dan firman-Nya, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS: Muzammil: 10). Kedua ayat di atas turun di masa Rasulullah saw memulai dakwah, pada saat itu nabi saw diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi diri dari perbuatan keji dan mungkar dan dari mengikuti perbuatan syirik dan dosa seperti yang dilakukan oleh orang musyrik di kota Mekkah saat itu.
Di samping itu Allah juga memerintahkan kepada beliau untuk bersabar terhadap cacian, cercaan, makian, siksaan, intimidasi dan segala bentuk penolakan yang bersifat halus dan kasar, dan berusaha untuk menghindar dari mereka dengan cara yang baik. Cara ini pula yang diterapkan oleh Rasulullah dalam berdakwah kepada para sahabatnya hingga pada akhirnya beliau berhasil mencetak generasi yang berjiwa bersih, berhati suci, bahkan membentuk generasi yang ideal, bersih dari kemusyrikan, kekufuran dan kemunafikan, kokoh dan tangguh, dan memiliki ikatan ukhuwah islamiyah yang erat. Padahal sebelumnya mereka tidak mengenal Islam bahkan phobi terhadapnya, namun setelah mengenal Islam dan hijrah ke dalamnya, justru menjadi pionir bagi tegaknya ajaran Islam.
Kisah Umar bin Khathab ra, menarik untuk kita simak; beliau di masa awal dakwah sebelum memeluk Islam dikenal dengan julukan “penghulu para pelaku kejahatan”, namun setelah hijrah beliau menjadi pemimpin umat yang disegani, tawadhu dan suka menolong orang miskin, beliau menjadi tonggak bagi tegaknya ajaran Islam.
Begitupun dengan kisah Khalid bin Walid, Abu Sofyan dan sahabat yang lainnya, menjadi bukti konkret akan perjalanan hijrah mereka dari kegelapan, kekufuran dan kemaksiatan menuju cahaya Allah. Karena itu pula Rasulullah saw pernah bersabda, “Sebaik-baik kalian di masa Jahiliyah, sebaik-baik kalian di masa Islam, jika mereka mau memahami”.
Hijrah ini sangatlah berat, karena di samping harus memiliki kesabaran, juga dituntut memiliki ketahanan ideologi dan keyakinan agar tidak mudah terbujuk rayuan dan godaan dari kenikmatan dunia yang fana, dan memiliki ketangguhan diri dan tidak mudah lentur saat mendapatkan cobaan dan siksaan yang setiap saat menghadangnya, berusaha membedakan diri walaupun mereka hidup di tengah-tengah mereka, karena ciri khas seorang muslim sejati “yakhtalitun walaakin yatamayyazun” (bercampur baur namun memiliki ciri khas tersendiri/tidak terkontaminasi)
Melihat kenyataan yang ada memang hijrah pada saat ini sangat relevan untuk diterapkan terutama yang berkaitan dengan hijrah nafsiyah (individu) dengan berusaha menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang menyimpang dan berusaha memperbaiki diri untuk bersih dari segala perbuatan kotor, sehingga hati, jiwa dan raga serta segala perbuatan menjadi suci. Dan setelah itu berusaha menghijrahkan keluarga, kerabat, lingkungan dan masyarakat yang ada di sekitarnya (terdekat), hingga pada akhirnya membentuk komunitas yang siap melakukan hijrah. Selanjutnya hijrahlah untuk istiqomah. Istiqomah untuk mempertahankannya, istiqomah untuk memperjuangkannya dan istiqomah untuk menyebarkannya.

Demikianlah hendaknya yang harus kita pahami akan makna dan hakikat hijrah, dimana krisis multidimensi sudah begitu menggejala dalam tubuh umat Islam, dan diperparah dengan terkikisnya norma-norma Islam dalam tubuh mereka, perlu adanya pembenahan diri sedini mungkin, diawali dari diri sendiri, lalu setelah itu anggota keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat luas. “Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNa, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang di tuju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Wallahu a’lam.


#MoveOnInMuharram